Sabtu, 22 Agustus 2015

Terima Kasih

Oke, sekarang pikiran saya sedang benar benar kacau. Seharusnya hari ini saya merasa lega karena hari ini terakhir di semester ini. Oiya hai dan terima kasih buat anda anda yang telah baca terapi menulis saya yang notabene adalah keluhan. Saya mahasiswa fashion design di salah satu sekolah fashion di surabaya.

Mungkin buat anda yang telah mengenal saya, anda pasti tahu saya bukan tipikal orang yang mudah galau. Oke langsung ke inti. Saya masuk kuliah september 2014, yang seharusnya lulus di november 2016. Tapi geser ke tahun 2017, entah bulan apa. Karena kebodohan yang telah saya lakukan. Saya  tidak lulus di mata kuliah menjahit pada semester dua, lalu saya harus mengulangnya di semester tiga. Yang membuat saya tidak lulus adalah, menjahitkan tugas menjahit celana saya ke penjahit. Sebetulnya saya tak mau melakukan tindakan bodoh nan curang ini.

Tapi apa daya, deadline yang diberikan sama dengan menjahit dress. Padahal itu mata kuliah dosen yang sama. Oke, saya bisa terima kalau saya mengulang di semester tiga saat itu walau pada awalnya setengah putus asa, karena nilai rata-rata akhir saya 59, yang di mana nilai standartnya itu 60. Karena itulah saya tidak boleh mengambil mata kuliah menggambar semester tiga dan membuat pola semeter tiga. Ya, menggambar, membuat pola, dan menjahit dijadikan suatu paket yang harus dijalani bersama. Jadi saya harus menunda kelas menggambar semester tiga dan pola semester tiga.  

 Akhirnya saya mengulang satu semester lagi dan sekelas dengan teman saya yang bernama sebut saja Dahlia, Anggrek, dan Cempaka. Mereka adalah teman saya di semester satu, namun Anggrek dan Cempaka tidak lulus dan mengulang di mata pelajaran menjahit semester satu dengan kasus yang sama dengan saya. Sedangkan Dahlia adalah teman akrab saya yang baru mengambil mata pelajaran menjahit semester dua di semester tiga karena masalah finansial.
Oke, saya pelajaran menjahit tiap hari jumat. Hari kamisnya mereka bertiga ada kelas pola semester dua. Saya tidak ikut, karena lulus pelajaran pola di semester dua. Tiap pelajaran menjahit, temanku yang Dahlia lah yang paling unggul, disusul saya karena mereka anggap saya pernah melaluinya. Tapi kenyataannya nilaiku tak kunjung cemerlang, Anggrek dan Cempaka mendapat nilai pas pas an juga seperti saya. Tiap ada kelas menjahit, dosen saya memberikan tugas yang seringnya harus diselesaikan di sana. Padahal sebenarnya menjahit itu harus butuh ketenangan hati, tidak gegabah kalau ingin bagus dan rapi. Oke, nampaknya beliau trauma karena saya.

Tiap kelas menjahit, Anggrek dan Cempaka sering tanya cara menjahit tugas yang diberikan kepada saya dan Dahlia. Ya tidak apa apa mereka bertanya tapi kalau terlalu sering juga mengganggu saya. Karena menjelaskan cara menjahit butuh dipraktekan, tidak bisa lewat lisan saja. Saya pernah sekali telat mengumpulkan tugas menjahit kemeja, karena tidak konsentrasi pada jahitan saya sendiri. Mereka terlalu sering bertanya pada saya dan Dahlia. Dahlia bisa mengatasinya karena, tangannya dia lebih terampil jadi dia cepat menjahitnya.

Lalu kami dan seluruh murid fashion design mendapatkan project membuat busana dengan tema yang ditentukan dan bagi yang memenuhi syarat bisa ditampilkan untuk fashion show di suatu mall pada bulan septeember nanti. Pada saat itu, saya sangat semangat karena saya pikir itu bisa jadi kesempatan karya saya untuk tampil pertama kali di fashion show. Sebelum membuatnya, kami harus approve 10 design dengan tema tersebut untuk dipilih salah satu. Setelah dipilih, kami membuat pola dan menjahitnya. Saya jahit itu dengan sepenuh hati dengan ambisi ingin ditampilkan di fashion show. Dua minggu kemudian, adalah hari deadline nya. 
Ternyata, project itu dikumpulkan hari kamis, saya lupa kalau ada perubahan pemberitahuan, saya hanya ingat dikumpulkan hari jumat seperti pemberitahuan awal. Kemudian baju saya di minus 10 karena telat mengumpulkan. Kemudian hari sabtu, saya mengambil lagi bajunya untuk melihat nilai yang saya dapat. Saya mendapatkan nilai 75 – 10= 65. Meski agak kecewa di-minus, tapi saya sangat bersyukur karena baju bisa saya ditampilkan di fashion show dengan catatan mengganti brokat warna merah menjadi warna emas. Oke saya ganti itu demi bisa tampil di fashion show.

Kemudian minggu lalu saya mendapat pemberitahuan dari Dahlia lewat BBM kalau dosen saya bilang  nilai saya terancam tidak lulus (lagi) di mata kuliah jahit ini, sedangkan teman teman lain saya lulus. Saya mencoba berfikir positif itu kedok dia saja, supaya saya lebih semangat untuk mengejar nilai lewat ujian akhir. Kemudian hari jumat minggu lalu dan kemarin,  adalah ujian jahit kami, menjahit celana jeans. Lagi lagi, Anggrek dan Cempaka selalu tanya kepada saya dan Dahlia cara menjahitnya. 
Padahal sebenarnya harusnya coba dulu, karena menjahit itu dicoba dulu baru nanti ketemu sendiri solusinya. Lagi-lagi saya dan Dahlia melambat karena mereka di jumat minggu lalu.
Jumat kemarin, ketika waktu ujian selesai, celana jeans saya dan semua teman saya belum ada yang selesai. Saya dan Dahlia kurang menjahit waistband saja sedangkan Anggrek dan Cempaka masih kurang banyak. Saya sangat takut dapat nilai jelek lagi tapi mencoba berfikir positif karena kurang satu langkah lagi, selesai. Tapi ternyata tadi pagi ketika saya mengambil hasil ujian, nilai saya lah yang paling buruk. Saya ingin menangis saat itu, tapi saya sedang bersiap siap untuk presentasi mata kuliah lain.

Sebelumnya, hari jumat kemarin, sehabis ujian saya mendapat cerita dari Dahlia bahwa dosen kami bilang di kelas pola di kelas mereka, menduga saya kalau project yang saya buat untuk ditampilkan di fashion show itu dijahitkan lagi. Dosen saya menawari mereka tambahan nilai di nilai jahit mereka untuk mereka mencari solusi membuat saya mengaku kalau itu memang jahitan penjahit, bukan saya. Saya semakin dilema dan khawatir saat itu. Tapi di sisi lain, bersyukur mempunyai teman seperti Dahlia, menceritakan ini ke saya. Di sisi lain, Anggrek dan Cempaka semangat untuk mencari solusi untuk saya mengaku. Saya bingung, saya tidak menjahitkan itu ke penjahit. Dan saya kaget dan putus asa saat mengetahui nilai ujian jahit jeans seperti yang saya katakan tadi.

Sekarang saya benar benar bingung harus bagaimana selain berdoa dan berpasrah diri ke Allah. Mungkin ada punya solusi? Saya dengan senang hati mendengarnya.



                                                                   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar