Oke, sekarang pikiran saya sedang benar benar kacau.
Seharusnya hari ini saya merasa lega karena hari ini terakhir di semester ini.
Oiya hai dan terima kasih buat anda anda yang telah baca terapi menulis saya
yang notabene adalah keluhan. Saya mahasiswa fashion design di salah satu
sekolah fashion di surabaya.
Mungkin buat anda yang telah mengenal saya, anda pasti tahu
saya bukan tipikal orang yang mudah galau. Oke langsung ke inti. Saya masuk
kuliah september 2014, yang seharusnya lulus di november 2016. Tapi geser ke
tahun 2017, entah bulan apa. Karena kebodohan yang telah saya lakukan.
Saya tidak lulus di mata kuliah menjahit
pada semester dua, lalu saya harus mengulangnya di semester tiga. Yang membuat
saya tidak lulus adalah, menjahitkan tugas menjahit celana saya ke penjahit. Sebetulnya
saya tak mau melakukan tindakan bodoh nan curang ini.
Tapi apa daya, deadline yang diberikan sama dengan menjahit
dress. Padahal itu mata kuliah dosen yang sama. Oke, saya bisa terima kalau
saya mengulang di semester tiga saat itu walau pada awalnya setengah putus asa,
karena nilai rata-rata akhir saya 59, yang di mana nilai standartnya itu 60.
Karena itulah saya tidak boleh mengambil mata kuliah menggambar semester tiga
dan membuat pola semeter tiga. Ya, menggambar, membuat pola, dan menjahit
dijadikan suatu paket yang harus dijalani bersama. Jadi saya harus menunda
kelas menggambar semester tiga dan pola semester tiga.
Akhirnya saya
mengulang satu semester lagi dan sekelas dengan teman saya yang bernama sebut
saja Dahlia, Anggrek, dan Cempaka. Mereka adalah teman saya di semester satu,
namun Anggrek dan Cempaka tidak lulus dan mengulang di mata pelajaran menjahit
semester satu dengan kasus yang sama dengan saya. Sedangkan Dahlia adalah teman
akrab saya yang baru mengambil mata pelajaran menjahit semester dua di semester
tiga karena masalah finansial.
Oke, saya pelajaran menjahit tiap hari jumat. Hari kamisnya
mereka bertiga ada kelas pola semester dua. Saya tidak ikut, karena lulus
pelajaran pola di semester dua. Tiap pelajaran menjahit, temanku yang Dahlia
lah yang paling unggul, disusul saya karena mereka anggap saya pernah
melaluinya. Tapi kenyataannya nilaiku tak kunjung cemerlang, Anggrek dan Cempaka
mendapat nilai pas pas an juga seperti saya. Tiap ada kelas menjahit, dosen
saya memberikan tugas yang seringnya harus diselesaikan di sana. Padahal
sebenarnya menjahit itu harus butuh ketenangan hati, tidak gegabah kalau ingin
bagus dan rapi. Oke, nampaknya beliau trauma karena saya.
Tiap kelas menjahit, Anggrek dan Cempaka sering tanya cara
menjahit tugas yang diberikan kepada saya dan Dahlia. Ya tidak apa apa mereka
bertanya tapi kalau terlalu sering juga mengganggu saya. Karena menjelaskan
cara menjahit butuh dipraktekan, tidak bisa lewat lisan saja. Saya pernah
sekali telat mengumpulkan tugas menjahit kemeja, karena tidak konsentrasi pada
jahitan saya sendiri. Mereka terlalu sering bertanya pada saya dan Dahlia. Dahlia
bisa mengatasinya karena, tangannya dia lebih terampil jadi dia cepat
menjahitnya.
Lalu kami dan seluruh murid fashion design mendapatkan
project membuat busana dengan tema yang ditentukan dan bagi yang memenuhi
syarat bisa ditampilkan untuk fashion show di suatu mall pada bulan septeember
nanti. Pada saat itu, saya sangat semangat karena saya pikir itu bisa jadi
kesempatan karya saya untuk tampil pertama kali di fashion show. Sebelum
membuatnya, kami harus approve 10 design dengan tema tersebut untuk dipilih
salah satu. Setelah dipilih, kami membuat pola dan menjahitnya. Saya jahit itu
dengan sepenuh hati dengan ambisi ingin ditampilkan di fashion show. Dua minggu
kemudian, adalah hari deadline nya.
Ternyata, project itu dikumpulkan hari
kamis, saya lupa kalau ada perubahan pemberitahuan, saya hanya ingat
dikumpulkan hari jumat seperti pemberitahuan awal. Kemudian baju saya di minus
10 karena telat mengumpulkan. Kemudian hari sabtu, saya mengambil lagi bajunya
untuk melihat nilai yang saya dapat. Saya mendapatkan nilai 75 – 10= 65. Meski
agak kecewa di-minus, tapi saya sangat bersyukur karena baju bisa saya
ditampilkan di fashion show dengan catatan mengganti brokat warna merah menjadi
warna emas. Oke saya ganti itu demi bisa tampil di fashion show.
Kemudian minggu lalu saya mendapat pemberitahuan dari Dahlia
lewat BBM kalau dosen saya bilang nilai
saya terancam tidak lulus (lagi) di mata kuliah jahit ini, sedangkan teman
teman lain saya lulus. Saya mencoba berfikir positif itu kedok dia saja, supaya
saya lebih semangat untuk mengejar nilai lewat ujian akhir. Kemudian hari jumat
minggu lalu dan kemarin, adalah ujian
jahit kami, menjahit celana jeans. Lagi lagi, Anggrek dan Cempaka selalu tanya
kepada saya dan Dahlia cara menjahitnya.
Padahal sebenarnya harusnya coba dulu,
karena menjahit itu dicoba dulu baru nanti ketemu sendiri solusinya. Lagi-lagi
saya dan Dahlia melambat karena mereka di jumat minggu lalu.
Jumat kemarin, ketika waktu ujian selesai, celana jeans saya
dan semua teman saya belum ada yang selesai. Saya dan Dahlia kurang menjahit
waistband saja sedangkan Anggrek dan Cempaka masih kurang banyak. Saya sangat
takut dapat nilai jelek lagi tapi mencoba berfikir positif karena kurang satu
langkah lagi, selesai. Tapi ternyata tadi pagi ketika saya mengambil hasil
ujian, nilai saya lah yang paling buruk. Saya ingin menangis saat itu, tapi
saya sedang bersiap siap untuk presentasi mata kuliah lain.
Sebelumnya, hari jumat kemarin, sehabis ujian saya mendapat
cerita dari Dahlia bahwa dosen kami bilang di kelas pola di kelas mereka, menduga
saya kalau project yang saya buat untuk ditampilkan di fashion show itu dijahitkan
lagi. Dosen saya menawari mereka tambahan nilai di nilai jahit mereka untuk
mereka mencari solusi membuat saya mengaku kalau itu memang jahitan penjahit, bukan
saya. Saya semakin dilema dan khawatir saat itu. Tapi di sisi lain, bersyukur
mempunyai teman seperti Dahlia, menceritakan ini ke saya. Di sisi lain, Anggrek
dan Cempaka semangat untuk mencari solusi untuk saya mengaku. Saya bingung,
saya tidak menjahitkan itu ke penjahit. Dan saya kaget dan putus asa saat
mengetahui nilai ujian jahit jeans seperti yang saya katakan tadi.
Sekarang saya benar benar bingung harus bagaimana selain
berdoa dan berpasrah diri ke Allah. Mungkin ada punya solusi? Saya dengan
senang hati mendengarnya.